Senin, 02 Juli 2012

RIVIEW BUKU AJAR PAI SD


REVIEW BUKU

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah:
KAJIAN KURIKULUM PAI
Dosen: Dr. SAIFUDIN ZUHRI, M.Ag


iain syekh nurjati
 










Disusun Oleh :
AMIN LABAIK (14116310003)
PRODI: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SMT II






PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYEKH NURJATI
 CIREBON
2012
KATA PENGANTAR


  Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat yang diberikan.
Shalawat beserta salam kepada Rasulullah, Muhammad SAW yang telah memberi petunjuk jalan yang benar.
Alhamdulillah penulis telah menyelesaikan tugas review buku  Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Dasar kelas Tiga untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kurikulum PAI pada program pascasarjana program studi Pendidikan Islam konsentrasi Pendidikan Agama Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
            Dalam penulisan tugas ini diusahakan semaksimal mungkin kearah kesempurnaan dengan bimbingan bapak dosen, namun demikian kiranya perlu disadari bahwa masih terdapat beberapa kekurangan.
Untuk itulah penulis dengan segala rendah hati mohon kiranya ada kritik  dan saran demi perbaikan selanjutnya.
Penulis berharap semoga Review Buku ini bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.
                                                                                                                                                                                    P e n u l i s


REVIEW BUKU

Judul Buku      : Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Dasar kelas Tiga      
Penulis             :  Sukatno, S.Ag dan Drs. H. Fadilah Ahmadi AM
Penerbit           : CV DUTA KARYA ILMU JAKARTA
Tahun Terbit    : 2007
Tebal Buku      : 143 Halaman                       
           

DESKRIPSI BUKU
Buku ajar ini digunakan sebagai buku acuan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Buku ini representatif sebagai salah satu sarana pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar dilengkapi dengan ilustrasi melalui gambar-gambar. Sisipan kata-kata hikmah didalamnya diharapkan mampu memotivasi siswa untuk menjadi jiwa yang kokoh dan kompetitif di zamannnya. Akan tetapi selain memiliki kelebihan dari segi konten buku ini juga memiliki kekurangan yang kiranya perlu kreatifitas untuk memperkayanya.

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK SEBAGAI PISAU ANALISIS
Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia belajar dengan cara bermain. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan emosi anak rentang usia 8-9 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan variasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).
Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret.
Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami suatu konsep.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit.
          Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif
          Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3.  Hirarkis
          Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.
Belajar dan Pembelajaran Bermakna
Belajar  merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan guru menjelaskan.

ANALISIS BUKU
Pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia setidaknya memiliki dua kekurangan mendasar. Pertama, pendidikan agama selama ini masih berpusat pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik, dan legal-formalistik. Kedua, pendidikan agama masih bertumpu pada ranah kognitif (intelektual) dan kurang menggarap ranah afektif (emosional) serta psikomotorik.
Ketika mencoba meneliti dan memahami buku pelajaran tersebut,  agama Islam menjadi kurang menarik untuk diakrabi. Sebagai pembaca, saya tidak dapat melibatkan diri dengan materi-materi yang ada di buku pelajaran tersebut.
 Padahal, sudah sangat jelas bahwa buku pelajaran PAI tidak sekadar memuat segepok pengetahuan. Ia memuat "nilai" dan mungkin malah lebih daripada itu. Nilai-nilai yang dikandung oleh buku pelajaran PAI itulah yang memungkinkan buku tersebut dapat berperan sebagai pembangun akhlak (karakter). Memang, agar buku pelajaran PAI dapat secara efektif membantu membangun akhlak yang baik, ia perlu dibantu dan didukung oleh banyak hal. Ada sistem pendidikan yang menyenangkan, ada guru agama yang menguasai bidangnya dan memiliki metode mengajar yang baik, dan sebagainya.
Hanya, karena fokus kita kali ini adalah tentang buku, saya pun ingin bertahan untuk menunjukkan bahwa buku tetap dapat berperan sebagai pembangun akhlak. Kunci buku pelajaran PAI sebagai pembangun akhlak ada pada apakah buku tersebut berhasil menyajikan nilai-nilai luhur dan mulia yang dikandung oleh agama Islam atau tidak. Setelah itu, jika nilai-nilai itu memang ada, apakah cara menyajikan nilai-nilai itu menarik dan mudah dipahami oleh para siswa atau tidak, setelah dua hal itu, apakah buku itu memiliki otoritas (kewibawaan) sebagai buku yang memang layak menyampaikan nilai-nilai penting tersebut atau tidak.
Ilustrasi yang digambarkan dalam buku ajar ini mengesankan pendidikan agama yang konvensional dengan model pembelajaran yang berpusat pada guru. Untuk pencapaian tujuan pembelajaran yang bermakna dibutuhkan keterlibatan siswa secara aktif, sehingga pendalaman keberagamaan siswa mampu inheren dalam dirinya.
Stygma Pendidikan Agama Islam yang memihak pada superioritas laki-laki juga terkesan dalam buku ajar ini, terlihat dalam ilustrasi dan peran tokoh didominasi oleh tokoh laki-laki. Sebagai agama yang mempunyai jargon Rahmatalilalamin, Islam laiknya bisa mengakomodir eksistensi perempuan termasuk dalam pendidikan dan pengajaran yang tercermin dari muatan kurikulum dan bahan ajar yang digunakan dalam proses transmisi pendidikan nilai nilai yang equality gender.

TELA’AH KRITIS TERHADAP BUKU
          Pertama. Materi pendidikan agama terdiri dari al-Qur’an, aqidah, akhlak, fikih dan tarikh. Materi-materi yang diajarkan berdiri sendiri dan belum tersusun dalam the body of knowledge.  Komponen  tersebut  merupakan hasil adaptasi kurikulum PAI di Madrasah Ibtidaiyah. Kecenderungan materi al-Qur’an  bernuansa normatif yang sangat kental, tanpa diimbangi dengan penalaran empiris dan realistis.  Materi aqidah cenderung normatif dan klasik. Aqidah disampaikan bernuansa teologis teosentris belum dikenalkan pada sistem aqidah antroposentris yang bernuansakan pembelaan terhadap kemanusiaan manusia. Materi Fiqih masih bersifat formlistik ritualistik. Siswa digiring pada pola ibadah vertikal belum digiring pada imlementasi dan penalaran kesalehan sosial. Materi akhlak hanya mengetengahkan materi yang hampir sama dengan PKn. materi akhlak lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan kognitif dan minim dalam pembentukan sikap serta pembiasaan (psikomotorik). Materi sejarah masih cenderung menunjukkan superioritas umat Islam dahulu atas umat Islam lain.
Kedua. Dalam penyusunan materi ajar PAI, permasalahan aktual yang dihadapi siswa, pembelajaran yang menyenangkan, kebermaknaan, kontekstual learning dalam buku ajar ini belum optimal terwakilkan.        
Diperlukan restrukturisasi materi ajar PAI yang lebih sensitif terhadap kebutuhan peserta didik dan pengembangan pembelajaran PAI terpadu  sehingga siswa mendapatkan pemahaman agama yang lebih utuh.
Ketiga. Tawaran pengembangan pembelajaran PAI terpadu dapat dilakukan empat model integrasi yaitu: model terhubung (connected), model (Squenced), model tematik webbed dan model integrated antar bidang studi. Permasalahan anak yang dapat diintegrasikan terutama masalah, emosional dan  fondasi teologisnya.

REKOMENDASI DAN SARAN
Rekomendasi dan saran ini ditujukan kepada seluruh penyelenggara pendidikan dan pengembang kurikulum (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, sekolah, guru, praktisi pendidikan dan  penulis buku ajar).
Rekomendasi/saran penulis sebagai berikut :
1. Dalam mendesain kurikulum sebagai arah penyusunan buku ajar, hendaknya disusun konsep kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Konsep ini dapat membawa siswa bergeser perannya dari obyek  pendidikan yang pasif menjadi subyek yang aktif.
2. Dalam hal orientasi, pengembangan buku ajar PAI sangat cocok menganut konsep berbasis kebutuhan peserta didik, karena PAI membutuhkan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan orientasi ini, PAI akan benar-benar aplikatif dalam kehidupan siswa.
3. Di era desentralisasi pendidikan, pengembangan materi ajar PAI sangat dibutuhkan untuk merespon problem empirik dalam kehidupan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna dengan prinsip contekstual learning.

******

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar